Pejuang MBG, Saepul Rela Terabas Jalan Sempit nan Terjal di Kampung Harmoni. (Foto: Zenal Mustari).
Cianjur | Matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur, sekira pukul 06.00 WIB, Saepul Rohman (45) sudah mantap melajukan sepeda motornya meninggalkan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukajadi.
Dirinya bukan sekadar berangkat kerja, kehadirannya merupakan garda terdepan dalam memastikan anak-anak di pelosok Cianjur Selatan mendapatkan asupan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Setiap hari, pria paruh baya itu harus beradu nyali dengan medan ekstrem menuju Kampung Harmoni, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka.
Jalanan tanah yang terjal, berbatu, dan sempit bak tebing menjadi sahabat setianya, jalan yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, membuat sepeda motor menjadi satu-satunya harapan untuk menjangkau Sekolah Dasar Negeri (SDN) Harmoni yang terpencil.
“Ini tantangan kami. Jalan banyak lubang, naik turun bukit. Tapi kalau bukan kami yang antar, siapa lagi? Anak-anak di sana sudah menunggu,” ujar Saepul dengan napas tersengal saat ditemui di sela tugasnya, Kamis (12/3/2026).
Setelah memastikan ratusan kotak MBG tiba di SDN Harmoni, Saepul kembali ke dapur untuk melanjutkan misi berikutnya. Total ada 12 sekolah dan 5 posyandu yang menjadi tanggung jawabnya.
Rute pengiriman harus diatur sedemikian rupa agar makanan tiba tepat waktu, mulai dari pengantaran pertama hingga pengambilan kotak makan (ompreng) yang baru tuntas menjelang siang.
“Setiap sekolah kami jemput omprengnya. Selesai semua biasanya jam 12 siang. Kalau hujan? Ya tetap jalan, yang penting makanan tetap terjaga dan anak-anak bisa makan,” tuturnya, menggambarkan semangat pantang menyerah.
SPPG Campaka Cianjur sendiri melayani 3.216 penerima manfaat. Saepul sengaja menjadikan SDN Harmoni sebagai prioritas utama karena aksesnya yang tidak memungkinkan untuk kendaraan roda empat.
Kehadirannya di kampung terpencil itu selalu disambut hangat oleh para siswa dan orang tua. Program ini tidak hanya mengenyangkan perut anak-anak, tetapi juga dianggap sebagai berkah ekonomi karena sebagian besar tenaga dapur direkrut dari warga lokal.
Di balik sepiring nasi bergizi yang sampai ke tangan siswa, ada kisah perjuangan para petugas seperti Saepul yang rela menembus keterbatasan medan demi masa depan generasi muda di pelosok negeri.








