Wamenaker Immanuel Ebenezer. (Foto : Istimewa).
Oleh : LuqmanJalu/Sandi R.A
Ada seorang pengusaha yang merasa terganggu karena didatangi Wamenaker Immanuel Ebenezer. Ia menulis surat panjang, dengan tembusan ke Presiden, Wakil Presiden, hingga Tuhan Yang Maha Esa.
Isinya satu: keluhan karena merasa dizalimi. Katanya, sidak merusak iklim usaha.
Katanya lagi, Wamen hanya sedang mencari panggung politik.
Tuduhan semacam itu bisa jadi terdengar serius kalau disampaikan dalam forum privat. Tapi begitu dibuka ke ruang publik, yang muncul justru keanehan. Sebab dalam sistem demokrasi dan hukum yang sehat, sidak bukan bentuk kezaliman.
Sidak adalah mekanisme pengawasan. Bahkan lebih dari itu, sidak adalah cara negara menunjukkan bahwa ia tidak tuli terhadap laporan rakyat kecil.
Justru yang berbahaya adalah ketika pengusaha menutup diri terhadap koreksi.
Menganggap pengawasan sebagai serangan.
Menganggap pejabat yang hadir di lapangan sebagai ancaman, bukan mitra.
Ini bukan logika dunia usaha yang sehat, tapi mental feodal yang ingin terus dibiarkan tak tersentuh.
Dalam konteks ini, Wamenaker tidak sedang mencari panggung. Ia justru sedang mendirikan panggung agar suara para pekerja bisa naik dan didengar.
Panggung itu bukan untuk tepuk tangan atau sorotan kamera. Panggung itu didirikan di lantai-lantai pabrik, di ruang-ruang kantor outsourcing, di sudut-sudut buram industri padat karya yang sering luput dari pantauan negara.
Banyak yang lupa, di republik ini, tidak semua orang punya akses ke mikrofon.
Tidak semua pekerja bisa mengadukan nasib ke kementerian atau bersuara di media.
Maka ketika seorang pejabat negara datang, duduk bersama, dan menjadi pengeras suara dari keluhan yang selama ini tersembunyi, itu bukan pencitraan.
Itu keberpihakan.
Menurut data Kemenaker per Juni 2025, dari 265 pengaduan tentang penahanan ijazah, mayoritas berasal dari pekerja di sektor logistik, outsourcing, dan manufaktur ringan.
Beberapa kasus bahkan menunjukkan penahanan dokumen pribadi hingga lebih dari 24 bulan, dengan alasan yang tidak punya dasar hukum.
Ini bukan cerita yang dibesar-besarkan.
Ini catatan resmi, diverifikasi, dan berulang.
Wamenaker tidak datang membawa tuduhan.
Ia datang membawa data, dan lebih penting lagi: membawa kehendak untuk mendengar langsung.
Ia datang bukan untuk mempermalukan, tapi untuk mengingatkan bahwa dalam bernegara, tak ada kekuasaan ekonomi yang kebal terhadap keadilan.
Adakah risiko dari gaya kepemimpinan seperti itu? Tentu.
Pasti ada yang tersinggung.
Ada yang merasa terusik.
Tapi sejak kapan pejabat negara diukur dari jumlah orang kaya yang tersinggung?
Seorang pejabat diukur dari seberapa banyak rakyat kecil yang akhirnya merasa didengar dan dilindungi.
Tudingan bahwa Wamen mencari panggung justru menunjukkan ketidakmampuan membedakan antara ambisi pribadi dan keberanian struktural. Mereka yang menuduh lupa satu hal, bahwa para pekerja itu memang butuh panggung. Bukan untuk menyanyi, tapi untuk menyampaikan fakta bahwa mereka terlalu lama dibungkam sistem kerja yang timpang.
Yang dilakukan Wamenaker bukanlah sandiwara. Justru ia sedang membongkar panggung pura-pura yang selama ini dibangun oleh narasi investasi yang katanya menyejahterakan semua, padahal sebagian besar hanya mempertebal margin laba segelintir. Ia hadir untuk memaksa publik melihat langsung wajah pekerja yang hidupnya digadaikan atas nama efisiensi.
Kalau semua itu dianggap pencitraan, maka boleh jadi memang kita sedang hidup di zaman yang membingungkan, di mana pejabat yang benar-benar bekerja dianggap pencitra, sementara yang tak berbuat apa-apa dianggap negarawan.
Tapi sejarah akan mencatat dengan jernih, bahwa siapa yang hadir bukan hanya saat aman, tapi juga saat ada ketimpangan. Siapa yang bersuara bukan hanya saat nyaman, tapi juga saat dibutuhkan.
Dan mungkin pengusaha yang keberatan itu hanya lupa satu hal, bahwa, panggung yang sedang ia cela, adalah panggung yang sedang digunakan oleh pekerjanya sendiri untuk bicara di hadapan Negara yang hadir dan membangun panggung melalui sidak seorang Wakil Mentri Tenaga Kerja, Immanuel “Noel” Ebeneizer.








