Haji Idris, Kepekaan yang Bekerja, Bukan Sekadar Janji
Oleh : Luqmanjalu 369
Di tengah hiruk-pikuk politik Jakarta, di mana janji sering lebih nyaring dari kerja, ada sedikit tokoh yang masih memilih jalan yang sunyi bekerja dalam diam, tapi dampaknya dirasakan nyata oleh rakyat.
Salah satunya adalah Haji Idris, Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, yang kiprahnya di Kepulauan Seribu membuktikan bahwa politik sejati tidak lahir dari panggung, tetapi dari kepekaan terhadap kebutuhan warga.
Kepekaan itu bukan retorika. Ia lahir dari pengalaman panjang sebagai putra asli Pulau Seribu, yang tumbuh dengan melihat langsung bagaimana warganya harus berjuang menghadapi keterbatasan akses layanan publik. Dari situ, Haji Idris paham bahwa tugas wakil rakyat bukan sekadar bicara, tetapi menjembatani yang jauh agar menjadi dekat, dan menghadirkan solusi di tempat di mana negara sering absen.
Salah satu bukti paling nyata dari kepekaan itu adalah perjuangannya menghadirkan Ambulan Laut layanan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana, tapi bagi masyarakat kepulauan adalah urat nadi kehidupan. Di wilayah yang terpisah laut dan sering menghadapi kondisi darurat medis tanpa akses cepat, kehadiran ambulan laut bukan sekadar kebijakan itu adalah bentuk nyata empati yang diwujudkan dalam tindakan.
Kepekaan yang sama juga terlihat saat warga Pulau Seribu menghadapi kesulitan mendapatkan lahan pemakaman umum. Bagi banyak orang di Jakarta daratan, persoalan pemakaman mungkin sepele. Tapi bagi warga kepulauan yang lahannya terbatas, itu adalah persoalan sosial dan spiritual sekaligus.
Haji idris turun langsung mengawal dan memperjuangkan penyediaan tanah pemakaman agar warga tidak lagi kesulitan mengurus jenazah keluarganya sendiri. Ia tidak menunggu headline, tidak membuat konferensi pers, ia hanya memastikan warga punya tempat untuk memakamkan orang tuanya dengan layak.
Dalam urusan lingkungan, Haji Idris kembali menunjukkan kepekaannya terhadap hal-hal yang kerap diabaikan pengolahan sampah. Ia tahu bahwa di pulau-pulau kecil, sampah bukan hanya soal kebersihan, tapi juga soal keberlangsungan hidup. Dengan mendorong sistem pengelolaan sampah lokal yang melibatkan warga, Idris sedang menanamkan kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat. Ini kerja pelan, tapi berdampak panjang.
Bahkan dalam isu yang kerap disalahpahami seperti pengajuan warga asli Pulau Seribu menjadi tenaga PJLP Idris memilih jalur prosedural, bukan tekanan jabatan. Ia tahu betul bahwa membuka kesempatan kerja bagi warga bukan berarti bermain kuasa, tetapi menegakkan keadilan sosial agar masyarakat kepulauan tidak terus-menerus jadi penonton di wilayahnya sendiri.
Itulah bentuk politik yang jarang ditemukan hari ini, politik yang hadir dengan empati, bukan eksploitasi. Idris tidak membangun popularitas dengan retorika moral, tetapi dengan hasil kerja yang konkret. Ia tahu, citra bisa dibeli, tapi kepercayaan warga hanya bisa diraih dengan kejujuran dan tindakan.
Namun ironinya, justru karena keteguhan itu, fitnah datang silih berganti. Berbagai tuduhan lama yang tidak pernah terbukti terus dihidupkan, seperti bara kecil yang sengaja dijaga agar tetap menyala. Tapi publik Pulau Seribu tahu fitnah tidak akan menghapus jejak kerja, sebagaimana kabut tidak bisa menutupi sinar matahari.
Haji Idris adalah potret politik yang seharusnya menjadi norma, bukan pengecualian. Politik yang peka terhadap kebutuhan rakyat, bukan politik yang sibuk membaca arah angin kekuasaan. Politik yang bergerak, bukan hanya berbicara.
Kepekaan semacam ini lah yang menjadi nyawa dari semangat Restorasi. Sebab Restorasi tidak akan hidup di ruang rapat atau panggung pidato, ia hidup di tangan orang-orang yang mau turun ke lapangan, mendengar warga, dan memperjuangkan kebutuhan mereka tanpa pamrih.
Haji Idris tidak sedang mengejar pujian. Ia hanya menjalankan amanah. Tapi justru karena itu, ia menjadi simbol dari apa yang seharusnya menjadi wajah politik baru di Jakarta politik yang menyentuh, bukan memukul yang membangun, bukan menuduh dan yang bekerja dengan hati, bukan dengan pencitraan.
Dan mungkin, di tengah gaduhnya politik hari ini, Jakarta masih punya harapan selama masih ada orang-orang seperti Haji Idris yang memilih diam tapi bekerja, yang menolak ikut arus tapi tetap mengalirkan manfaat. Karena dalam dunia yang sibuk bersandiwara, kepekaan adalah bentuk keberanian yang paling langka.








