Herman Tinggal di Gubuk Rawan Ambruk Kondisinya Memperihatinkan, (Poto: Sandi Risa Ali).
Cianjur | Di usianya yang menginjak 65 tahun, Herman harus menjalani hari-harinya dalam keprihatinan. Bersama istri dan keempat anaknya, ia terpaksa tinggal di sebuah gubuk reyot di Kampung Joglo, Desa Hegarmanah, selama puluhan tahun.
Rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu dan kayu lapuk dimakan rayap itu nyaris roboh bisa kapan saja, sehingga dianggap mengancam keselamatan seluruh keluarganya.
Saat hujan turun, kondisinya semakin memilukan. Air merembes lewat atap yang bolong, membuat mereka kedinginan dan tidak bisa tidur nyenyak.
“Kami harus terus waspada, takut rumah ambruk,” ujar Herman dengan suara lirih.
Sebagai buruh tani serabutan, Herman hampir tak punya penghasilan tetap.
“Makan sehari-hari saja pas-pasan, apalagi untuk memperbaiki rumah. Saya ingin membangun rumah, tapi uang dari mana?” keluhnya.
Bendahara RT setempat, Ujang, menngarakan betapa memprihatinkannya kondisi keluarga Herman saat ini.
“Rumah ini jauh dari standar layak huni dan sangat berisiko bagi kesehatan dan keselamatan penghuninya,” tegas Ujang.
Meski sudah beberapa kali mengajukan bantuan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), hingga kini belum ada respons dari pemerintah.
“Kami menunggu bantuan, karena keluarga Herman tidak bisa terus hidup seperti ini,” tambah Ujang.
Terakhir Uang menyampaikan, keluarga Herman butuh bantuan relawan dan donatur untuk membangun rumah yang layak.
“Setiap bantuan baik tenaga, material, atau dana akan sangat berarti untuk mengubah hidup keluarga ini,” tutupnya.***








