Aktivis dan Warga Protes Lintasan Ekskavator di Kawasan Penolakan Proyek Geothermal Cianjur. (Foto: Ist).
Cianjur | Warga Kampung Pasir Cina Girang, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, bersama aktivis Gerakan Surya Kencana menolak kedatangan alat berat yang melintas diam-diam di wilayah mereka.
Alat berat yang diduga terkait proyek panas bumi (geothermal) itu, melintas dini hari tanpa pemberitahuan kepada masyarakat setempat.
Dalam sebuah video yang beredar, Aktivis Gerakan Surya Kencana, Ario Prima, menyatakan protesnya.
“Kemarin malam sekitar pukul 02.10 dini hari, (alat berat) ini lewat di jalur RW 02-03, yang mana ini jalur penolakan. Kita sesalkan tidak ada pemberitahuan dari para RW,” ujarnya.
Meski menurut informasi dari Ketua BPD para RW sudah diberi tahu, namun informasi itu tidak sampai ke warga.
“Apapun jadinya, saya berharap supaya semua mobil atau ekskavator atau kendaraan berat lainnya dari perusahaan atau kontraktornya untuk tidak melewati jalur penolakan,” tegas Ario.
Ia meminta pihak perusahaan mengambil jalur lain untuk menghindari keributan dan berkumpulnya massa.
Ario mengonfirmasi bahwa ekskavator tersebut adalah milik kontraktor yang disewa oleh PT Daya Mas Geothermal Pangrango untuk membuka jalan menuju area Ciguntur.
Ia mengimbau kepada aparat desa, mulai dari Ketua BPD, Kepala Desa, hingga Sekretaris Desa, untuk menyampaikan pesan tegas kepada perusahaan.
“Saya pesankan tidak mengulangi lagi agar tidak membawa alat berat melalui jalur penolakan, yaitu RW 02-03, jalur Kampung Pasir Cina. Silahkan lewat mana saja,” pintanya.
Ia menegaskan bahwa alat berat yang sudah berada di lokasi harus segera diturunkan pada sore hari itu juga, karena tidak adanya koordinasi.
“Kita juga khawatir terjadinya sabotase atau apa. Yang jelas, kita sudah berkumpul,” tambahnya.
Ario juga berpesan kepada pemerintah desa agar transparan. “Segala sesuatu yang ada di jalan kebenaran tidak perlu disembunyikan,”pesannya.
Berdasarkan penelusuran, penolakan warga dan aktivis muncul akibat tidak adanya sosialisasi atau konfirmasi sebelumnya dari pihak perusahaan atau kontraktor kepada masyarakat. Sehingga hal ini memicu kekhawatiran dan ketidakpercayaan warga.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi masih dalam pengawasan. Warga menuntut kejelasan dan komitmen perusahaan untuk menghormati kesepakatan serta menjaga ketenangan lingkungan. Belum ada pernyataan resmi dari PT Daya Mas Geothermal Pangrango maupun pihak desa terkait aksi penolakan ini.








