Solidaritas Cianjur Untuk Dulur Sumatera

Oleh : LuqmanJalu

Tahun 2022, Cianjur pernah berada di titik paling rapuh dalam sejarahnya. Gempa memecah rumah, merenggut nyawa, memaksa puluhan ribu orang hidup di pengungsian dengan rasa takut yang panjang. Pada masa itu, bantuan datang dari banyak penjuru negeri. Dari Sumatera, rendang dikirim berton-ton. Bukan sekadar makanan, tapi pesan kalian tidak sendiri.

Waktu berlalu. Cianjur perlahan pulih, meski di balik proses pemulihan itu ada cerita lain yang tak selalu bersih. Namun ingatan tentang solidaritas tidak ikut runtuh. Ia tinggal mengendap menjadi kesadaran kolektif.

Kini, giliran Aceh dan Sumatera yang dilanda banjir bandang dan longsor. Desa hilang anak-anak mengungsi, rumah, sawah, dan sumber hidup lenyap dalam hitungan jam.

Negara hadir, tapi tidak selalu cukup cepat bantuan ada, tapi tidak selalu sampai. Di celah itulah, sekelompok anak muda Cianjur memilih bergerak.

Mereka tidak datang membawa slogan besar tidak bicara balas jasa yang mereka bawa adalah satu keyakinan sederhana “khoirunnas anfauhum linnas sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dalam logika ini, pertanyaannya bukan siapa paling hebat, tapi siapa yang mau berbuat”.

Relawan Cianjur bergerak bukan sebagai institusi besar, tapi sebagai manusia yang pernah merasakan kehilangan. Mereka tahu rasanya menunggu bantuan. Mereka paham apa artinya terisolasi. Maka ketika mendengar saudara di Sumatera terjebak dalam situasi yang sama, mereka tidak menunggu perintah.

Dengan wadah Energi Relawan Indonesia (ERI), Cianjur Update, GAS, serta dukungan pemerintah Kecamatan Cugenang dan para dermawan, penggalangan dana dilakukan. Beras dikumpulkan, logistik disiapkan, tahap demi tahap bantuan disalurkan.

Perwakilan Relawan Cianjur Bergerak.

Lima relawan diberangkatkan langsung ke lapangan pada 24 Desember, memastikan bantuan tidak berhenti di spanduk atau laporan, tapi benar-benar sampai ke tangan korban.

Target mereka jelas dan jujur sepuluh ton beras, dikirim bertahap, diprioritaskan ke lokasi-lokasi yang belum tersentuh bantuan. Sumatera Selatan, Sumatera Barat, hingga Aceh. Tidak memilih yang mudah dijangkau, tapi yang paling membutuhkan.

Di saat banyak orang sibuk berdebat soal siapa lamban dan siapa salah, relawan-relawan ini memilih satu hal yang paling penting hadir. Mereka menunjukkan bahwa relasi antar manusia “hablum minannas” bukan konsep abstrak, tapi tindakan nyata. Saling menopang, tanpa syarat, tanpa pamrih.

Gerakan ini seharusnya menyadarkan kita semua, bahwa solidaritas tidak menunggu negara sempurna. Bahwa kemanusiaan tidak butuh izin rumit. Bahwa membantu bukan soal besar-kecilnya donasi, tapi kemauan untuk terlibat.

Cianjur pernah jatuh, dan bangkit karena uluran tangan sesama. Hari ini, Cianjur membalas bukan dengan ingatan sentimental, tapi dengan aksi. Ini bukan kisah heroik. Ini pengingat sederhana ketika satu wilayah terluka, yang lain bisa memilih diam, atau bergerak.

Relawan Cianjur sudah memilih, bergerak atas solidaritas sebangsa dan setanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *